Yu je' du na' tana' kasu @ NCR?
Masa' pe ilu koma ilu un tana' NCR baan dau le. Lan tain? Ji se' de' du koma tana' NCR ja:
1. Tana' de' ilu oyan oma, ketu, amin, lepubung, pola, lidik, nepeng ngan liang dalau atau cen kena tanggal 1/1/1958;
2. Meka pe tana' kasu le, ke' ngkey le mita oman uko' baan tai ti wai, mita pun, ngan ti sekau ngan mita atuk ngan kado' gayeng de' ca dalau mpak bio pipa oma' dado';
3. Ilu un tana' ja man oma' dado' atau pemanak le tengen atau osa le tengen;
Boka meka, ke' ngkey te tepat Badeng Boleng Kua' di un Tana'?
1. ke' Long Busang - boka lepo' Kenyah Badeng Boleng kua' nai buau ke Long Busang Cen Kena 1/1/1958.
2. Ke Usun Apau boka le sokat ponan tana' ja ngan Perintah ngan buktikan ketu le ngan pola ngan liang tepun le un ke' tana' ja uban Usun Apau lepa wujud cen kena 1/1/1958.
Un e' cen Badeng Boleng Kua' de' oba' ke Ponan Tana' Usun Apau ngan du?
Abun Sui Anyit bersama masyarakat Ulu Bakun
Bukti Resolusi yang telah dihantar secara serahan tangan kepada Penguasa Jabatan Tanah dan Servei Kapit.
MENCARI PENYELESAIAN MASALAH TANAH NCR BAGI PENDUDUK LEBU KULIT
SELEPAS DIALOG BERSAMA JABATAN HUTAN SARAWAK
Tuesday, June 30, 2009
Friday, June 12, 2009
Buck up, Sarawak MPs told
Some Sarawak MPs only know how to silence the people NOT represent them!
See the following report:
Friday June 12, 2009
Buck up, Sarawak MPs told
KUCHING: Sarawak MPs must buck up as their performance in Parliament is below par compared with their counterparts in the peninsula and Sabah.
Dewan Rakyat Deputy Speaker Datuk Dr Wan Junaidi Tuanku Jaafar said most of them seldom took part in the debates on government policies.
“’They (Sarawak MPs) should be more aggressive, more vocal and involve themselves more in the debates on government policies,’’ he added when asked by reporters after recording a programme at RTM Kuching here yesterday.
Dr Wan Junaidi, the Santubong MP, urged them to also actively take part in the debates on the annual Budget and the Yang di-Pertuan Agong’s speech in Parliament.
’’If you represent the people, you must speak. If you don’t speak, ministers will not know you.’’
However, he said that Sarawak MPs recorded good attendance during Parliament sessions.
Sarawak has 30 Barisan Nasional MPs and one opposition MP – Chong Chieng Jen (DAP-Bandar Kuching).
Dr Wan Junaidi said Sabah MPs performed much better than their Sarawak counterparts.
Overall, he said the ratio of non-performing MPs in Parliament was ‘’very high’’ as there were some who never spoke.
Dr Wan Junaidi said a good MP must not only know his constituency well but also the issues and problems faced by the state, country and the world.
He said this would make them all-rounders.
Dr Wan Junaidi said he would publish a book on the Malaysian Parliament to mark its 50th anniversary in September.
“I have completed about 200 pages and am getting Dewan Bahasa dan Pustaka to go through the draft,” he said.
See the following report:
Friday June 12, 2009
Buck up, Sarawak MPs told
KUCHING: Sarawak MPs must buck up as their performance in Parliament is below par compared with their counterparts in the peninsula and Sabah.
Dewan Rakyat Deputy Speaker Datuk Dr Wan Junaidi Tuanku Jaafar said most of them seldom took part in the debates on government policies.
“’They (Sarawak MPs) should be more aggressive, more vocal and involve themselves more in the debates on government policies,’’ he added when asked by reporters after recording a programme at RTM Kuching here yesterday.
Dr Wan Junaidi, the Santubong MP, urged them to also actively take part in the debates on the annual Budget and the Yang di-Pertuan Agong’s speech in Parliament.
’’If you represent the people, you must speak. If you don’t speak, ministers will not know you.’’
However, he said that Sarawak MPs recorded good attendance during Parliament sessions.
Sarawak has 30 Barisan Nasional MPs and one opposition MP – Chong Chieng Jen (DAP-Bandar Kuching).
Dr Wan Junaidi said Sabah MPs performed much better than their Sarawak counterparts.
Overall, he said the ratio of non-performing MPs in Parliament was ‘’very high’’ as there were some who never spoke.
Dr Wan Junaidi said a good MP must not only know his constituency well but also the issues and problems faced by the state, country and the world.
He said this would make them all-rounders.
Dr Wan Junaidi said he would publish a book on the Malaysian Parliament to mark its 50th anniversary in September.
“I have completed about 200 pages and am getting Dewan Bahasa dan Pustaka to go through the draft,” he said.
Wednesday, May 27, 2009
TANAH ADAT PENDUDUK ASAL SARAWAK
Penduduk asal Sarawak telah lama hidup dalam kemiskinan. Harta yang mereka miliki adalah TANAH.
Dalam lawatan dan Seminar berkaitan Hak terhadap pemilikan Tanah Hak Adat yang lebih dikenali dengan Native Customary Right (NCR) di beberapa tempat di Sarawak menunjukkan penduduk tengah bergumul dan berjuang untuk mempertahankan Tanah NCR mereka.
Apabila Tanah akan dirampas atas nama "PEMBANGUNAN", maka tiada lagi harta yang dimiliki dan warisan untuk anak cucu dan generasi Orang asal Sarawak seperti Dayak, Melanau malah Melayu.
Selama ini memang ada tanah NCR yang dibangunkan atas nama PEMBANGUNAN tetapi sebenarnya Tanah NCR telah hilang atas usaha SYARIKAT PERLADANGAN.
Tiada pulangan pernah diserahkan kepada penduduk orang asal yang menyerahkan Tanah NCR mereka atas nama PEMBANGUNAN.
Apa yang kita risau adalah apabila Tanah NCR habis dirampas atas apapun alasan, penduduk ASAL seperti Iban, Orang Ulu dan Bidayuh malah Melayu akan MEREMPAT di TANAH asal mereka sendiri.
Sebab syarikat yang memdapat Tanah NCR ini adalah Syarikat milik orang BUKAN ORANG ASAL Sarawak dan merupakan kroni pihak tertentu.
Pihak tertentu yang merampas Tanah NCR lebih cenderung untuk merampas Tanah NCR penduduk asal daripada membantu orang asal mengusahakan Tanah NCR mereka. Atau sekurang-kurangnya "SHARE SAMARATA".
Dalam lawatan dan Seminar berkaitan Hak terhadap pemilikan Tanah Hak Adat yang lebih dikenali dengan Native Customary Right (NCR) di beberapa tempat di Sarawak menunjukkan penduduk tengah bergumul dan berjuang untuk mempertahankan Tanah NCR mereka.
Apabila Tanah akan dirampas atas nama "PEMBANGUNAN", maka tiada lagi harta yang dimiliki dan warisan untuk anak cucu dan generasi Orang asal Sarawak seperti Dayak, Melanau malah Melayu.
Selama ini memang ada tanah NCR yang dibangunkan atas nama PEMBANGUNAN tetapi sebenarnya Tanah NCR telah hilang atas usaha SYARIKAT PERLADANGAN.
Tiada pulangan pernah diserahkan kepada penduduk orang asal yang menyerahkan Tanah NCR mereka atas nama PEMBANGUNAN.
Apa yang kita risau adalah apabila Tanah NCR habis dirampas atas apapun alasan, penduduk ASAL seperti Iban, Orang Ulu dan Bidayuh malah Melayu akan MEREMPAT di TANAH asal mereka sendiri.
Sebab syarikat yang memdapat Tanah NCR ini adalah Syarikat milik orang BUKAN ORANG ASAL Sarawak dan merupakan kroni pihak tertentu.
Pihak tertentu yang merampas Tanah NCR lebih cenderung untuk merampas Tanah NCR penduduk asal daripada membantu orang asal mengusahakan Tanah NCR mereka. Atau sekurang-kurangnya "SHARE SAMARATA".
Thursday, May 14, 2009
KONSEP KEPATUHAN KEPADA PEMERINTAH
Rm. 13:1
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
Rm. 13:2
Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.
Rm. 13:3
Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.
Rm. 13:4
Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
RINGKASAN
1. Pemerintah yang baik harus dipatuhi
2. Pemerintah adalah berasal dan ketetapan dari Allah
3. Melawan pemerintah bermakna melawan ketetapan Allah
4. Orang yang berbuat baik TIDAK PERLU TAKUT kepada pemerintah
5. Orang yang berbuat baik HARUS dihargai oleh Pemerintah
6. Pemerintah adalah HAMBA ALLAH - oleh itu Pemerintah WAJIB betindak adil atau buatlah kebaikan untuk rakyat BUKAN menganiaya atau menyusahkan rakyat
7. Pemerintah tidak boleh MURKA (Berlaku kasar atau menghukum) kepada mereka yang tidak berbuat jahat.
Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.
Rm. 13:2
Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.
Rm. 13:3
Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.
Rm. 13:4
Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.
RINGKASAN
1. Pemerintah yang baik harus dipatuhi
2. Pemerintah adalah berasal dan ketetapan dari Allah
3. Melawan pemerintah bermakna melawan ketetapan Allah
4. Orang yang berbuat baik TIDAK PERLU TAKUT kepada pemerintah
5. Orang yang berbuat baik HARUS dihargai oleh Pemerintah
6. Pemerintah adalah HAMBA ALLAH - oleh itu Pemerintah WAJIB betindak adil atau buatlah kebaikan untuk rakyat BUKAN menganiaya atau menyusahkan rakyat
7. Pemerintah tidak boleh MURKA (Berlaku kasar atau menghukum) kepada mereka yang tidak berbuat jahat.
Wednesday, May 13, 2009
DALEY @ DALEH @ PEMAKAI MENUA
Dalau le mudip ke' daya songai te ading de, bio' ale tana' le. Tana' bio' ji ilu na' ki koma DALEY atau DALEH @ PEMAKAI MENUA.
Tana' DALEY ji Mahkamah lepa iktiraf sebagai Hak Tanah Adat Bumiputra (NCR). Point je' penting ilu ke petawai dalam keputusan Mahkamah Nor Anak Nyawai ja ne :
"BOKA LE LEPA NGELEPOK KE' CA TANA' - SE' JA TANA' NCR LE NE JA."
Na' ki masa pe ilu koma ilu ntaun tana' NCR la uban le lepa nai peselai atau buau ke' pasen atau nai nyeng ke' pasen. NTA JA MEKA. Tana' le je ilu lepa aung ke' daya sungai te ading de, JAWAI JA TANA' LE LEPE".
Cuma Land Code (Chapter 81) je bada' boka le kelap ca tana' le nta ne ja anun le laa. Undang-undang ji ilu nta sokat pakai. Masa' perlu ilu PINDA.
Nta kerajaan Sarawak de' na' ki ne uba' ke pinda ji uban de kelo' ke MONAN @ RAMPAS hak tana' NCR le.
Mahkamah lepa iktiraf hak le TAPI nta Kerajaan Pimpinan Taib uba' baya' dau Keputusan Mahkamah ja. NTA NE KERAJAAN TENENG KEJA.
Un le uba' Kerajaan de' MONAN atau RAmpas Atau NGOBAK Lepuun le ??
Boka nta uba' Kerajaan terus RAMPAS tana' NCR @ Daley le, pekimet tiga-tiga cen na' ki ne. Apan mencam undi baya'.
Tana' DALEY ji Mahkamah lepa iktiraf sebagai Hak Tanah Adat Bumiputra (NCR). Point je' penting ilu ke petawai dalam keputusan Mahkamah Nor Anak Nyawai ja ne :
"BOKA LE LEPA NGELEPOK KE' CA TANA' - SE' JA TANA' NCR LE NE JA."
Na' ki masa pe ilu koma ilu ntaun tana' NCR la uban le lepa nai peselai atau buau ke' pasen atau nai nyeng ke' pasen. NTA JA MEKA. Tana' le je ilu lepa aung ke' daya sungai te ading de, JAWAI JA TANA' LE LEPE".
Cuma Land Code (Chapter 81) je bada' boka le kelap ca tana' le nta ne ja anun le laa. Undang-undang ji ilu nta sokat pakai. Masa' perlu ilu PINDA.
Nta kerajaan Sarawak de' na' ki ne uba' ke pinda ji uban de kelo' ke MONAN @ RAMPAS hak tana' NCR le.
Mahkamah lepa iktiraf hak le TAPI nta Kerajaan Pimpinan Taib uba' baya' dau Keputusan Mahkamah ja. NTA NE KERAJAAN TENENG KEJA.
Un le uba' Kerajaan de' MONAN atau RAmpas Atau NGOBAK Lepuun le ??
Boka nta uba' Kerajaan terus RAMPAS tana' NCR @ Daley le, pekimet tiga-tiga cen na' ki ne. Apan mencam undi baya'.
Friday, April 24, 2009
NCR LAND WILL BE BULDOZED IN LONG KOYAN, BELAGA, SARAWAK
On 22/4/2009, at about 10.10 a.m., I received one phone call from Tuai Rumah Nyalang Tahe complaining about their new planted oil palm crops will be buldozed by Samling Company on 2/5/2009.
As concerned citizens, what should we do? I have passed the message (SMS) to some people pertaining the same.
We hope that the plan by Samling will not materialize. If you have any friend and relative(s) from Rumah Nyalang, Long Koyan, Belaga Sarawak, please initiate something to encourage them.
I will not be able to be with them on the 2.5.09 because I have Court Matters Kuala Lumpur. If not I surely will be with them.
People from Belaga please share this matter to you friends.
As concerned citizens, what should we do? I have passed the message (SMS) to some people pertaining the same.
We hope that the plan by Samling will not materialize. If you have any friend and relative(s) from Rumah Nyalang, Long Koyan, Belaga Sarawak, please initiate something to encourage them.
I will not be able to be with them on the 2.5.09 because I have Court Matters Kuala Lumpur. If not I surely will be with them.
People from Belaga please share this matter to you friends.
Thursday, April 23, 2009
45 YEARS OF CONFLUENCE OF CULTURE AND UNITY
Kepada semua, satu Simposium FORUM akan diadakan pada 25-26.4.2009 di Dewan Suarah Miri, Sarawak.
Tajuk / Tema : 45 YEARS OF CONFLUENCE OF CULTURE AND UNITY
Sub-Tema : "Unity of Purpose and Unity of Action".
Anda sebagai pengunjung blog ini, apa jadi harapan anda dalam FORUM ini berdasarkan tema diberi?
Atau SESUAI kah Tema ini Kenapa?
Dear all bloggers, a FORUM Simposium will be held on 25-26.4.2009 at Dewan Suarah Miri, Sarawak.
Theme : 45 YEARS OF CONFLUENCE OF CULTURE AND UNITY
Sub-Theme : "Unity of Purpose and Unity of Action".
You as visitor of this blog what do you expect out of this Simposium based on theme given.
Or you may have any other theme in mind, why?
Tajuk / Tema : 45 YEARS OF CONFLUENCE OF CULTURE AND UNITY
Sub-Tema : "Unity of Purpose and Unity of Action".
Anda sebagai pengunjung blog ini, apa jadi harapan anda dalam FORUM ini berdasarkan tema diberi?
Atau SESUAI kah Tema ini Kenapa?
Dear all bloggers, a FORUM Simposium will be held on 25-26.4.2009 at Dewan Suarah Miri, Sarawak.
Theme : 45 YEARS OF CONFLUENCE OF CULTURE AND UNITY
Sub-Theme : "Unity of Purpose and Unity of Action".
You as visitor of this blog what do you expect out of this Simposium based on theme given.
Or you may have any other theme in mind, why?
Wednesday, April 15, 2009
“Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan”
Perdana Menteri Malaysia telahpun berganti pada 3/4/2009. Semua rakyat yang dapat membaca akhbar dan sempat menonton sekurang-kurangnya RTM1 mengetahui siapakah Perdana Menteri Malaysia kini.
Sebagai rakyat Malaysia yang prihatin, saya turut ingin menyampaikan ucapan TAHNIAH KEPADA DATUK PATINGGI NAJIB TUN ABDUL RAZAK.
Setiap kali pertukaran Perdana Menteri pasti ada satu ideologi baru. Yang satu ini membawa bersamanya konsep“Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan”.
Saya percaya PM Najib pasti mempunyai langkah-langkah tertentu untuk melaksanakan dasar ini.
Walau bagaimanapun sebagai rakyat yang bertanggungjawab dan respon kepada kenyataan PM Najib yang pernah berkata "era GOVERNMENT KNOWS BEST THAN RAKYAT" telah berlalu. Atau bahasa Melayunya lebih kurang "era KERAJAAN LEBIH TAHU DARI RAKYAT" telah berlalu.
Mengulas hal ini, sebagai rakyat yang "LEBIH TAHU" dari kerajaan seperti yang diungkapkan oleh Perdana Menteri keenam ini, saya ada beberapa saranan/pemerhatian yang perlu dikaitkan dengan “Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan” seperti berikut:
1. Di akhbar Borneo Post 13.4.2009 Cina di Sarawak dilaporkan sangat kurang bekerja dalam sektor awam : IMBALANCE IN PUBLIC SECTOR. yang melaporkan orang Tiong Hua sangat kurang dalam sektor awam.
2. Bagi saya, bukan tak seimbang sahaja masalahnya, tetapi turut melibatkan bangsa bukan Melayu yang lain seperti India, Iban, Kadazan, Orang Ulu, Orang Asli, dan lain-lain.
3. Kalau diperhatikan dengan teliti, sepatutnya sektor awam harus melibatkan semua suku bangsa yang ada di Malaysia.
4. Satu Malaysia. Rakyat didahulukan bagi saya Pegawai Bahagian, Pegawai Daerah dan Pegawai Pendidikan Bahagian di Sarawak perlu mendahulukan RAKYAT TEMPATAN itu sendiri.
5. Begitu juga peringkat Negeri, pegawai dari dalam negeri itu sendiri harus dilantik mengetuai satu-satu jabatan kerajaan persekutuan atau negeri.
6. Apa yang berlaku seolah-olah pegawai-pegawai atau ketua-ketua jabatan di sesebuah bahagian atau daerah itu dikuasai oleh kaum atau puak "TERTENTU" sahaja. Seakan-akan orang lain yang berkelayakan dari Bahagian atau Daerah tersebut tidak ada. Benarkah itu?
7. Perhatikanlah dalam Jabatan Polis sebagai contoh paling dekat... Siapakah Ketua Polis Daerah, Negeri, dan Negara? Adakah keseimbangan dalam Jawatan ketua-ketua yang berkenaan? Adakah dari dahulu kita berketua polis dari kaum lain? Atau adakah mungkin peluang semasa era “Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan” ini?
8. Ya persoalan "Rakyat didahulukan". Rakyat yang mana satu? Itu persoalan yang paling penting untuk dijawab oleh Perdana Menteri keenam ini. Jika ini tidak dapat dijawab dan dilaksanakan dengan baik seperti "PERUBAHAN" yang dicanangkan, maka Malaysia akan terus bergerak seperti "STATUS QUO". Tidak ada perubahan... “Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan” hanya tinggal "LIP SERVICE" lagi.
9. Contoh lain yang perlu diambil perhatian adalah Jabatan Hal Ehwal Orang Asli (JHEOA). Dicadangkan agar berilah peluang kepada ORANG ASLI TULEN yang berkelayakan mengetuai Jabatan itu sebagai Ketua Pengarah, Ketua Pengarah Negeri, Daerah dan sebagainya. Kerana itu Jabatan milik ORANG ASLI. Mereka tahu HAL EHWAL mereka sendiri. Tidak guna mewujudkan JHEOA kalau mereka sendiri tidak mengetuai Jabatan yang ditubuhkan khas untuk mereka. Banyak sudah Orang Asli yang berkelayakan.
Harap pihak yang mencanangkan "era Kerajaan tahu semua sudah berlalu" ini mengambil berat tentang pendapat rakyat ini.
Sebagai rakyat Malaysia yang prihatin, saya turut ingin menyampaikan ucapan TAHNIAH KEPADA DATUK PATINGGI NAJIB TUN ABDUL RAZAK.
Setiap kali pertukaran Perdana Menteri pasti ada satu ideologi baru. Yang satu ini membawa bersamanya konsep“Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan”.
Saya percaya PM Najib pasti mempunyai langkah-langkah tertentu untuk melaksanakan dasar ini.
Walau bagaimanapun sebagai rakyat yang bertanggungjawab dan respon kepada kenyataan PM Najib yang pernah berkata "era GOVERNMENT KNOWS BEST THAN RAKYAT" telah berlalu. Atau bahasa Melayunya lebih kurang "era KERAJAAN LEBIH TAHU DARI RAKYAT" telah berlalu.
Mengulas hal ini, sebagai rakyat yang "LEBIH TAHU" dari kerajaan seperti yang diungkapkan oleh Perdana Menteri keenam ini, saya ada beberapa saranan/pemerhatian yang perlu dikaitkan dengan “Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan” seperti berikut:
1. Di akhbar Borneo Post 13.4.2009 Cina di Sarawak dilaporkan sangat kurang bekerja dalam sektor awam : IMBALANCE IN PUBLIC SECTOR. yang melaporkan orang Tiong Hua sangat kurang dalam sektor awam.
2. Bagi saya, bukan tak seimbang sahaja masalahnya, tetapi turut melibatkan bangsa bukan Melayu yang lain seperti India, Iban, Kadazan, Orang Ulu, Orang Asli, dan lain-lain.
3. Kalau diperhatikan dengan teliti, sepatutnya sektor awam harus melibatkan semua suku bangsa yang ada di Malaysia.
4. Satu Malaysia. Rakyat didahulukan bagi saya Pegawai Bahagian, Pegawai Daerah dan Pegawai Pendidikan Bahagian di Sarawak perlu mendahulukan RAKYAT TEMPATAN itu sendiri.
5. Begitu juga peringkat Negeri, pegawai dari dalam negeri itu sendiri harus dilantik mengetuai satu-satu jabatan kerajaan persekutuan atau negeri.
6. Apa yang berlaku seolah-olah pegawai-pegawai atau ketua-ketua jabatan di sesebuah bahagian atau daerah itu dikuasai oleh kaum atau puak "TERTENTU" sahaja. Seakan-akan orang lain yang berkelayakan dari Bahagian atau Daerah tersebut tidak ada. Benarkah itu?
7. Perhatikanlah dalam Jabatan Polis sebagai contoh paling dekat... Siapakah Ketua Polis Daerah, Negeri, dan Negara? Adakah keseimbangan dalam Jawatan ketua-ketua yang berkenaan? Adakah dari dahulu kita berketua polis dari kaum lain? Atau adakah mungkin peluang semasa era “Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan” ini?
8. Ya persoalan "Rakyat didahulukan". Rakyat yang mana satu? Itu persoalan yang paling penting untuk dijawab oleh Perdana Menteri keenam ini. Jika ini tidak dapat dijawab dan dilaksanakan dengan baik seperti "PERUBAHAN" yang dicanangkan, maka Malaysia akan terus bergerak seperti "STATUS QUO". Tidak ada perubahan... “Satu Malaysia. Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan” hanya tinggal "LIP SERVICE" lagi.
9. Contoh lain yang perlu diambil perhatian adalah Jabatan Hal Ehwal Orang Asli (JHEOA). Dicadangkan agar berilah peluang kepada ORANG ASLI TULEN yang berkelayakan mengetuai Jabatan itu sebagai Ketua Pengarah, Ketua Pengarah Negeri, Daerah dan sebagainya. Kerana itu Jabatan milik ORANG ASLI. Mereka tahu HAL EHWAL mereka sendiri. Tidak guna mewujudkan JHEOA kalau mereka sendiri tidak mengetuai Jabatan yang ditubuhkan khas untuk mereka. Banyak sudah Orang Asli yang berkelayakan.
Harap pihak yang mencanangkan "era Kerajaan tahu semua sudah berlalu" ini mengambil berat tentang pendapat rakyat ini.
Tuesday, April 14, 2009
PENDUDUK SARAWAK MEMILIKI TANAH PALING LUAS, BENAR?
Perjalanan dari Bintulu ke Kuching mengambil masa 9 jam. Sebagai pemandu bersendirian, memang memenatkan. Paling dijaga adalah MENGANTUK. Memaksa saya berhenti untuk tidur sejenak di tepi Highway dekat Simunjan.
Sepanjang perjalanan memang luas pemandangan menandakan luasnya tanah Sarawak. Tanah yang luas ini kelau di"bahagi" kepada penduduk Sarawak yang tidak sepadat Selangor, sudah tentu penduduk Sarawak memiliki keluasan tanah yang besar.
Tapi agak "MALANG" kerana luasnya tanah Sarawak bukan milik penduduk asalnya. Mereka hanya perhatikan sahaja balak ditebang, kemudian pokok ditanam, sawit ditanam dan jetropa di tanam dan lain-lain kegiatan ekonomi berkaitan tanah.
Persoalannya MILIK SIAPA pembangunan PERTANIAN ini??? Khabarnya, tuan punya tanaman tersebut diberi "LESEN" selama 60 tahun untuk mengusahakan tanaman tersebut. WAH!!! boleh diperbaharui pulak selama 60 tahun lagi.
Sangat jarang atau hampir tiada penduduk asal di rumah panjang memiliki ladang yang seluas jauh mata memandang ini. Bahkan penduduk rumah panjang NEGATIF kewangan mereka berbanding "Pengusaha BALAK, LADANG SAWIT LUAS dan lain-kain di atas.
Apa tidaknya kerana Penduduk rumah panjang TERPAKSA membelanjakan wang mereka untuk MEMPERTAHANKAN Tanah Adat mereka.
Apa sudah jadi kepada penduduk rumah panjang? Mengapa mereka harus mengeluarkan wang hasil tulang empat kerat untuk mempertahankan HAK Tanah Adat mereka dari diceroboh!!!?
Rupa-rupanya tanah Sarawak yang luas hanya "SELUAS MATA MEMANDANG DAN HANYA MAMPU DILIHAT SAHAJA" bukan untuk diusahakan penduduk rumah panjang jauh ssekali untuk DINIKMATI hasilnya kerana telah "DILESENKAN" oleh Kerajaan BN Sarawak untuk "PENGUSAHA" LADANG demi "pembangunan".
Penduduk rumah panjang giat membanting tulang di atas tanah yang dianggap milik mereka demi sesuap nasi. Tapi lain ceritanya di pejabat pihak yang "menguruskan" Tanah Sarawak. Tanah Sarawak dibahagi-bahagikan di kalangan "mereka".
Lagaknya beginilah kerja mereka: Tanah Daerah Belaga untuk kau, Tanah di Daerah Baram untuk aku. Di Daerah Sebauh untuk kau, tanah di Daerah Betong untuk dia. Bahagian ini untuk Kompeni, tapi kompeni MESTI bagi sesetengah % untuk aku.
Rakyat di kawasan yang kita bahagi di kalangan kita ini JANGAN KITA PEDULI. Pilihanraya nanti kita bagi RM20.00 untuk mereka, pasti kita dapat diundi.
Dibiarkanlah rakyat papa dan kedana. Tujuan akhir visi pengambilan tanah ini adalah agar suatu hari nanti rakyat rumah panjang TAK ADA TANAH LAGI WALAU SEKANGKANG KERApun....!!
AKHIRNYA rakyat juga yang menderita kerana tanah telah TIADA lagi milik mereka. Menangis pun tak guna lagi. Hanya mampu menunggu mati atau kedatangan Tuhan kedua kali.......AMIN.
Sepanjang perjalanan memang luas pemandangan menandakan luasnya tanah Sarawak. Tanah yang luas ini kelau di"bahagi" kepada penduduk Sarawak yang tidak sepadat Selangor, sudah tentu penduduk Sarawak memiliki keluasan tanah yang besar.
Tapi agak "MALANG" kerana luasnya tanah Sarawak bukan milik penduduk asalnya. Mereka hanya perhatikan sahaja balak ditebang, kemudian pokok ditanam, sawit ditanam dan jetropa di tanam dan lain-lain kegiatan ekonomi berkaitan tanah.
Persoalannya MILIK SIAPA pembangunan PERTANIAN ini??? Khabarnya, tuan punya tanaman tersebut diberi "LESEN" selama 60 tahun untuk mengusahakan tanaman tersebut. WAH!!! boleh diperbaharui pulak selama 60 tahun lagi.
Sangat jarang atau hampir tiada penduduk asal di rumah panjang memiliki ladang yang seluas jauh mata memandang ini. Bahkan penduduk rumah panjang NEGATIF kewangan mereka berbanding "Pengusaha BALAK, LADANG SAWIT LUAS dan lain-kain di atas.
Apa tidaknya kerana Penduduk rumah panjang TERPAKSA membelanjakan wang mereka untuk MEMPERTAHANKAN Tanah Adat mereka.
Apa sudah jadi kepada penduduk rumah panjang? Mengapa mereka harus mengeluarkan wang hasil tulang empat kerat untuk mempertahankan HAK Tanah Adat mereka dari diceroboh!!!?
Rupa-rupanya tanah Sarawak yang luas hanya "SELUAS MATA MEMANDANG DAN HANYA MAMPU DILIHAT SAHAJA" bukan untuk diusahakan penduduk rumah panjang jauh ssekali untuk DINIKMATI hasilnya kerana telah "DILESENKAN" oleh Kerajaan BN Sarawak untuk "PENGUSAHA" LADANG demi "pembangunan".
Penduduk rumah panjang giat membanting tulang di atas tanah yang dianggap milik mereka demi sesuap nasi. Tapi lain ceritanya di pejabat pihak yang "menguruskan" Tanah Sarawak. Tanah Sarawak dibahagi-bahagikan di kalangan "mereka".
Lagaknya beginilah kerja mereka: Tanah Daerah Belaga untuk kau, Tanah di Daerah Baram untuk aku. Di Daerah Sebauh untuk kau, tanah di Daerah Betong untuk dia. Bahagian ini untuk Kompeni, tapi kompeni MESTI bagi sesetengah % untuk aku.
Rakyat di kawasan yang kita bahagi di kalangan kita ini JANGAN KITA PEDULI. Pilihanraya nanti kita bagi RM20.00 untuk mereka, pasti kita dapat diundi.
Dibiarkanlah rakyat papa dan kedana. Tujuan akhir visi pengambilan tanah ini adalah agar suatu hari nanti rakyat rumah panjang TAK ADA TANAH LAGI WALAU SEKANGKANG KERApun....!!
AKHIRNYA rakyat juga yang menderita kerana tanah telah TIADA lagi milik mereka. Menangis pun tak guna lagi. Hanya mampu menunggu mati atau kedatangan Tuhan kedua kali.......AMIN.
Saturday, April 11, 2009
Pilihanraya yang adil untuk semua pihak yang bertanding - SATU SARANAN ADIL UNTUK SEMUA
Saya curiga dan sukar mengiktiraf sepenuhnya kemenangan pihak atau parti tertentu di Batang Ai. Kerana wakil parti PKR dan BN tidak dibenarkan mengikuti rombongan SPR membawa peti undi ke pusat pengiraan undi sama ada melalui perahu, kenderaan darat dan/atau helikopter.
Kecuali setiap peti undi dikira di setiap pusat pembuangan undi dan jumlahnya dihantar melalui fax atau serahan tangan ke pusat pengiraan barulah saya boleh mengiktiraf kemenangan tersebut tanpa mengira parti mana.
Wakil parti pula dimaklumkan tentang angka keputusan setelah dikira di pusat mengundi- beri salinan keputusan SETIAP PETI UNDI kepada setiap wakil parti bertanding).
Pendek kata untuk ADIL kepada semua pihak:
1. Kira undian di setiap pusat pembuangan undi dan dipantau oleh wakil parti;
2. Kalau dibawa ke pusat mengira/penjumlahan tanpa dikira di pusat mengundi@peti undi, WAKIL parti WAJIB dibenarkan mengikuti pihak SPR mengangkut semua peti undi sama ada melalui Kenderaan darat, Perahu atau helikopter.
Barulah kemenangan itu boleh diiktiraf.
Kalau tidak demikian maka kemenangan sebuah parti itu MERAGUKAN dan wajar tidak boleh diiktiraf. Apa lagi kalau SPR bertindak untuk cenderung memihak kepada pihak tertentu.
Mungkin ada kesan sampingan - iaitu LAMBAT TAHU KEPUTUSAN iaitu keputusan hanya mungkin boleh diumumkan keesokan harinya. Tak mengapa, Asalkan keputusannya ADIL dan semua pihak puas.
Kecuali setiap peti undi dikira di setiap pusat pembuangan undi dan jumlahnya dihantar melalui fax atau serahan tangan ke pusat pengiraan barulah saya boleh mengiktiraf kemenangan tersebut tanpa mengira parti mana.
Wakil parti pula dimaklumkan tentang angka keputusan setelah dikira di pusat mengundi- beri salinan keputusan SETIAP PETI UNDI kepada setiap wakil parti bertanding).
Pendek kata untuk ADIL kepada semua pihak:
1. Kira undian di setiap pusat pembuangan undi dan dipantau oleh wakil parti;
2. Kalau dibawa ke pusat mengira/penjumlahan tanpa dikira di pusat mengundi@peti undi, WAKIL parti WAJIB dibenarkan mengikuti pihak SPR mengangkut semua peti undi sama ada melalui Kenderaan darat, Perahu atau helikopter.
Barulah kemenangan itu boleh diiktiraf.
Kalau tidak demikian maka kemenangan sebuah parti itu MERAGUKAN dan wajar tidak boleh diiktiraf. Apa lagi kalau SPR bertindak untuk cenderung memihak kepada pihak tertentu.
Mungkin ada kesan sampingan - iaitu LAMBAT TAHU KEPUTUSAN iaitu keputusan hanya mungkin boleh diumumkan keesokan harinya. Tak mengapa, Asalkan keputusannya ADIL dan semua pihak puas.
Tuesday, March 31, 2009
PERISTIWA DI SEBALIK PENAMAAN CALON
Penamaan calon bagi pilihan raya di Bukit Selambau, Kedah, Bukit Gantang di Perak dan Batang Ai di Sarawak telah melabuhkan tirainya.
Tak usahlah saya memperkenalkan siapakah calon-calon bagi ketiga-tiga kawasan tersebut. Cuma calon-calon bebas yang berjumlah 13 orang di Bukit Selambau agak "memberangsangkan". Kalau nak kenal mereka kena usahakan sendiri.
Cerita di Batang Ai pada hari penamaan calon yang penyokong tidak tahu adalah 'ada pebalahan' kecil di antara pemimpin utama negeri Sarawak dan adun pembangkang negeri Sarawak.
Peristiwa ini umpama "Persidangan Dewan Undangan Negeri secara terbuka". Kalau di negeri Perak, persidangan diadakan di "bawah pokok". Di Batang Ai lain ceritanya.
Peristiwa ini berlaku apabila adun pembangkang berhasrat untuk bercerita atau bersapa dengan pemimpin utama negeri Sarawak iaitu orang no. 1 dan 2.
Peristiwa selama lebih kurang 5 minit itu berlaku di mana ada pertelagahan di antara pemimpin utama negeri Sarawak dengan pembangkang.
Orang nombor dua "yang dikasihi" seperti biasa telah "mengipas" bossnya. Dan menghalau pemimpin pembangkang dari menghampiri tempat mereka seraya berkata "GO AWAY, GO AWAY WE NO NEED YOU HERE....
ADUN pembangkang menjawab YOU ARE THE ONE NOT NEEDED BY THE DAYAKS AFTER THIS...
Dari peristiwa singkat di atas terlihat ketidakmatangan pemimpin politik tertentu. Nak bersalaman dan bercerita secara profesional pun tidak boleh. Seolah - olah "personal". perbuatan ketidakmatangan ini tidak pernah ditayangkan dalam TV. Yg ada hanya yang terbaik. Seolah - olah tiada cacat celanya pihak tertentu.
Apapun, masa akan menentukan siapakah pemenang nanti di Batang Ai. Setakat hari penamaan calon, masing - masing mengatakan mereka akan MENANG.
KITA TUNGGU DAN LIHAT. Semoga ada perubahan seperti yang dilaungkan oleh semua pihak termasuk BN.
Tak usahlah saya memperkenalkan siapakah calon-calon bagi ketiga-tiga kawasan tersebut. Cuma calon-calon bebas yang berjumlah 13 orang di Bukit Selambau agak "memberangsangkan". Kalau nak kenal mereka kena usahakan sendiri.
Cerita di Batang Ai pada hari penamaan calon yang penyokong tidak tahu adalah 'ada pebalahan' kecil di antara pemimpin utama negeri Sarawak dan adun pembangkang negeri Sarawak.
Peristiwa ini umpama "Persidangan Dewan Undangan Negeri secara terbuka". Kalau di negeri Perak, persidangan diadakan di "bawah pokok". Di Batang Ai lain ceritanya.
Peristiwa ini berlaku apabila adun pembangkang berhasrat untuk bercerita atau bersapa dengan pemimpin utama negeri Sarawak iaitu orang no. 1 dan 2.
Peristiwa selama lebih kurang 5 minit itu berlaku di mana ada pertelagahan di antara pemimpin utama negeri Sarawak dengan pembangkang.
Orang nombor dua "yang dikasihi" seperti biasa telah "mengipas" bossnya. Dan menghalau pemimpin pembangkang dari menghampiri tempat mereka seraya berkata "GO AWAY, GO AWAY WE NO NEED YOU HERE....
ADUN pembangkang menjawab YOU ARE THE ONE NOT NEEDED BY THE DAYAKS AFTER THIS...
Dari peristiwa singkat di atas terlihat ketidakmatangan pemimpin politik tertentu. Nak bersalaman dan bercerita secara profesional pun tidak boleh. Seolah - olah "personal". perbuatan ketidakmatangan ini tidak pernah ditayangkan dalam TV. Yg ada hanya yang terbaik. Seolah - olah tiada cacat celanya pihak tertentu.
Apapun, masa akan menentukan siapakah pemenang nanti di Batang Ai. Setakat hari penamaan calon, masing - masing mengatakan mereka akan MENANG.
KITA TUNGGU DAN LIHAT. Semoga ada perubahan seperti yang dilaungkan oleh semua pihak termasuk BN.
Sunday, March 15, 2009
PILIHAN RAYA KECIL (PRK) BATANG AI SARAWAK
1. Nampaknya persoalan siapakah calon BN dalam PRK Batang Ai selesai.Hanya 'signal' OK dari Pak Lah sahaja lagi. Saya percaya Pak Lah akan positif. Sebagai blogger yang melihat dari jauh, latar belakang Calon BN kelihatan "terbaik". Sila rujuk pada Akhbar di Sarawak hari ini (15/3/2009- Borneo Post).
2. Perlu diingat bahawa bukan hebatnya latar belakang yang diperlukan dalam pilihanraya kali ini. Secara peribadi calon BN memang tidak boleh dipertikaikan kelulusan dan pengalamannya. Timbul juga rasa KESIAN pada calon BN ini. Sebab kenapa tidak boleh 'meresapi' dan turut "mengalami" keperitan RAKYAT terbanyak yang kehilangan 'segalanya' angkara BN.
3. Hakikat yang perlu diketahui oleh RAKYAT ialah WADAH di mana calon itu berdiri. Dalam hal calon BN ini, sudah tentu wadahnya adalah PRS/BN. Adakah kelulusan/pengalaman yang HEBAT ini bisa menerobos/mengubah polisi/WADAH/perlakuan BN selama ini. Antara lain yang ada adalah seperti yang kedengaran di akar umbi dan kedai kopi 'seluruh' Sarawak:
a. Pemimpin sedia ada dalam BN yang tidak intergriti;
b. Pemimpin BN yang 'maha kaya' tetapi rakyat PAPA KEDANA;
c. Pemimpin telah menabur janji di Batang Ai banyak kali sejak sekian lama, tetapi kata rakyat di tempat itu JANJI TIDAK DITEPATI;
d. Pampasan Hidro Batang Ai;
e. Yang paling penting Tanah Adat Rakyat DIRAMPAS dan diberi kepada SYARIKAT yang ada 'connection' atau 'proxy' kepada pemimpin BN;
f. Batang Ai tidak terkecuali dalam masalah di atas.
g. Dan banyak lagi rasa tidak puas hati rakyat yang tidak dapat saya nyatakan di sini kerana tidak mahu menghabiskan ruang dan masa dalam blog ini.
4. Selagi pemimpin sedia ada BN masih berkuasa, MUSTAHIL calon sehebat manapun boleh membetulkan keadaan atau KESENGSARAAN RAKYAT yang dilakukan oleh Pemimpin kerajaan BN.
5.Hanya WADAH lain selain BN sahaja yang dapat membetulkan keadaan ini.
6. CONTOH MUDAH: Dalam satu syarikat, seseorang pekerja yang sudah SAKIT AID tidak akan dapat sembuh. Syarikat akan mengambil pekerja baru untuk ganti pekerja (pesakit AID) ini. Mustahil pesakit aid dapat sembuh. Begitu juga BN umpama PESAKIT AID.
7. Orang atau pekerja baru bermakna PILIH CALON PKR. Dalam kes PRK Batang Ai, Calon BN umpama ubat untuk sembuhkan PESAKIT AID. Calon PR/PKR umpama mendapatkan orang baru yang SIHAT WALAFIAT.
8. Diharapkan pemilih di Batang Ai diberi kekuatan dan hikmat untuk memilih dengan bijaksana. Di tangan pemilih Batang Ai terletak PENCETUS kepada PERUBAHAN di Negeri Sarawak.
9. Cukuplah sudah peluang telah diberi kepada BN selama 45 tahun. RAKYAT Batang Ai tidak boleh tertipu lagi.
10. Kepercayaan / Undi yang telah diberi oleh rakyat kepada BN di Sarawak termasuk di Batang Ai telah digunakan sepenuhnya oleh BN untuk:-
a. Memperkaya diri sendiri;
b. Sengaja membiarkan rakyat terus miskin;
C. MERAMPAS TANAH RAKYAT.
SELAMAT MENJALANKAN TANGGUNGJAWAB SEBAGAI PENGUNDI DI BATANG AI.
Di tanganmu terletak KUNCI Gelombang Perubahan di Sarawak.
JANGAN TAKUT MELAKUKAN PERUBAHAN.
2. Perlu diingat bahawa bukan hebatnya latar belakang yang diperlukan dalam pilihanraya kali ini. Secara peribadi calon BN memang tidak boleh dipertikaikan kelulusan dan pengalamannya. Timbul juga rasa KESIAN pada calon BN ini. Sebab kenapa tidak boleh 'meresapi' dan turut "mengalami" keperitan RAKYAT terbanyak yang kehilangan 'segalanya' angkara BN.
3. Hakikat yang perlu diketahui oleh RAKYAT ialah WADAH di mana calon itu berdiri. Dalam hal calon BN ini, sudah tentu wadahnya adalah PRS/BN. Adakah kelulusan/pengalaman yang HEBAT ini bisa menerobos/mengubah polisi/WADAH/perlakuan BN selama ini. Antara lain yang ada adalah seperti yang kedengaran di akar umbi dan kedai kopi 'seluruh' Sarawak:
a. Pemimpin sedia ada dalam BN yang tidak intergriti;
b. Pemimpin BN yang 'maha kaya' tetapi rakyat PAPA KEDANA;
c. Pemimpin telah menabur janji di Batang Ai banyak kali sejak sekian lama, tetapi kata rakyat di tempat itu JANJI TIDAK DITEPATI;
d. Pampasan Hidro Batang Ai;
e. Yang paling penting Tanah Adat Rakyat DIRAMPAS dan diberi kepada SYARIKAT yang ada 'connection' atau 'proxy' kepada pemimpin BN;
f. Batang Ai tidak terkecuali dalam masalah di atas.
g. Dan banyak lagi rasa tidak puas hati rakyat yang tidak dapat saya nyatakan di sini kerana tidak mahu menghabiskan ruang dan masa dalam blog ini.
4. Selagi pemimpin sedia ada BN masih berkuasa, MUSTAHIL calon sehebat manapun boleh membetulkan keadaan atau KESENGSARAAN RAKYAT yang dilakukan oleh Pemimpin kerajaan BN.
5.Hanya WADAH lain selain BN sahaja yang dapat membetulkan keadaan ini.
6. CONTOH MUDAH: Dalam satu syarikat, seseorang pekerja yang sudah SAKIT AID tidak akan dapat sembuh. Syarikat akan mengambil pekerja baru untuk ganti pekerja (pesakit AID) ini. Mustahil pesakit aid dapat sembuh. Begitu juga BN umpama PESAKIT AID.
7. Orang atau pekerja baru bermakna PILIH CALON PKR. Dalam kes PRK Batang Ai, Calon BN umpama ubat untuk sembuhkan PESAKIT AID. Calon PR/PKR umpama mendapatkan orang baru yang SIHAT WALAFIAT.
8. Diharapkan pemilih di Batang Ai diberi kekuatan dan hikmat untuk memilih dengan bijaksana. Di tangan pemilih Batang Ai terletak PENCETUS kepada PERUBAHAN di Negeri Sarawak.
9. Cukuplah sudah peluang telah diberi kepada BN selama 45 tahun. RAKYAT Batang Ai tidak boleh tertipu lagi.
10. Kepercayaan / Undi yang telah diberi oleh rakyat kepada BN di Sarawak termasuk di Batang Ai telah digunakan sepenuhnya oleh BN untuk:-
a. Memperkaya diri sendiri;
b. Sengaja membiarkan rakyat terus miskin;
C. MERAMPAS TANAH RAKYAT.
SELAMAT MENJALANKAN TANGGUNGJAWAB SEBAGAI PENGUNDI DI BATANG AI.
Di tanganmu terletak KUNCI Gelombang Perubahan di Sarawak.
JANGAN TAKUT MELAKUKAN PERUBAHAN.
Monday, February 16, 2009
ANTARA SEBATANG BALAK DAN PENDUDUK RUMAH PANJANG : YANG MANAKAH LEBIH BERHARGA?
1. Siapa yang pihak pengusaha balak dan BN pentingkan, balak atau penduduk rumah panjang?
2. Kalau benar namanya peduli: mengapa hampir semua sungai di Sarawak sudah keruh?
3. Ratusan dan mungkin ribuan ikan mati di sungai yang padat dengan lumpur AKIBAT AKTIVITI PEMBALAKAN ini.
4. Adakah penduduk rumah panjang menerima "pampasan" dari pengusaha balak setiap bulan?
5. Penduduk rumah panjang hanya dipedulikan selama 10 hari (bergantung kepada SPR) semasa pilihanraya. Itu pun RM20.00 seorang pengundi. Itukah nilai seorang penduduk rumah Panjang?
6. Selepas tempoh itu - Siapa peduli penduduk rumah panjang lagi?
7. Pihak yang menjanjikan "pembangunan" untuk penduduk rumah panjang ini akan membuat "pembangunan" seperti ladang kelapa sawit, mencari "balak" selagi ada.
8. Penduduk rumah panjang ? Siapa peduli kerana tiada nilai berbanding balak sebatang.
9. Bahkan hasil TULANG EMPAT KERAT PENDUDUK RUMAH PANJANG seperti pondok, rumah, kebun, dan tanaman juga khabarnya "ditebang".
10. Yah semua di atas adalah namanya "PEMBANGUNAN". Ya hanya BN yang dapat membawa "Pembangunan".
11. Bagaimana hendak menghentikan "Pembangunan atau mungkin juga penganiayaan" ini?
WAHAI PENDUDUK RUMAH PANJANG, BANGKITLAH MELAWAN BELENGU PENGANIAYAAN INI.
BERUBAHLAH. MASIH ADA HARAPAN. BANGKITLAH BERSAMA PERUBAHAN.
2. Kalau benar namanya peduli: mengapa hampir semua sungai di Sarawak sudah keruh?
3. Ratusan dan mungkin ribuan ikan mati di sungai yang padat dengan lumpur AKIBAT AKTIVITI PEMBALAKAN ini.
4. Adakah penduduk rumah panjang menerima "pampasan" dari pengusaha balak setiap bulan?
5. Penduduk rumah panjang hanya dipedulikan selama 10 hari (bergantung kepada SPR) semasa pilihanraya. Itu pun RM20.00 seorang pengundi. Itukah nilai seorang penduduk rumah Panjang?
6. Selepas tempoh itu - Siapa peduli penduduk rumah panjang lagi?
7. Pihak yang menjanjikan "pembangunan" untuk penduduk rumah panjang ini akan membuat "pembangunan" seperti ladang kelapa sawit, mencari "balak" selagi ada.
8. Penduduk rumah panjang ? Siapa peduli kerana tiada nilai berbanding balak sebatang.
9. Bahkan hasil TULANG EMPAT KERAT PENDUDUK RUMAH PANJANG seperti pondok, rumah, kebun, dan tanaman juga khabarnya "ditebang".
10. Yah semua di atas adalah namanya "PEMBANGUNAN". Ya hanya BN yang dapat membawa "Pembangunan".
11. Bagaimana hendak menghentikan "Pembangunan atau mungkin juga penganiayaan" ini?
WAHAI PENDUDUK RUMAH PANJANG, BANGKITLAH MELAWAN BELENGU PENGANIAYAAN INI.
BERUBAHLAH. MASIH ADA HARAPAN. BANGKITLAH BERSAMA PERUBAHAN.
Sunday, February 15, 2009
Not poison but silt that killed fish: NREB
Wednesday, February 11th, 2009
By Raynore Mering and Florence Mervyn
Petikan dari BORNEO POST
ENQUIRIES PERTAINING TO THE FOLLOWING NEWSPAPER REPORT:
1. This type of incident never happen before.
2. Habitat of the fish had been "contaminated".
3. It is seem "unacceptable" reasons given by the respective authorities?
4. Is it happen in the "intact" or natural river(s)which are not being affected by logging activities OR dam construction?
5. Is the incident "BEYOND HUMAN CONTROL" again?
6. May be because of HUMAN activities?
KUCHING: The mysterious death of fish in Belaga and Kapit may have been solved and experts say it was not due to poison.
Initial investigations carried out by the Natural Resources and Environment Board (NREB) had found that the fish had practically suffocated to death.
NREB controller Dr Penguang Manggil told The Borneo Post yesterday that the dead or dying fish were found with their gills clogged with mud.
Water sampling and test were carried out on the tributaries of the rivers leading to Bakun or Belaga and Kapit, and except for Murum river, the Balui, Belepeh and Linau rivers were all very murky.
“The water turbility (murkiness) was very high and there was high total suspended solid content. This could have been caused by erosion upstream. The gills of the fishes were found to be blocked by silt, and they are believed to have suffocated,” said Penguang.
According to Penguang, as the rivers’ water level subsided, the current of the rivers became stronger and this would also stir up more sediment.
Penguang said it was very unlikely that the fish had died because of poisoning or chemical contaminants in the rivers. Nevertheless, he said NREB had sent samples to the Chemistry Department for tests.
In Belaga yesterday, hundreds of fish surfaced in the Batang Rajang as they struggled for air, some already dead. There have been several reports of such incidents in Belaga and Kapit since late last year which was cause for much worry for the people there.
Penguang said the erosion of the rivers was caused by human activities upstream and he agreed that it would have long term consequences on the rivers as well as aquatic life. He said the death of the fish emphasised the importance of environmental impact assessment studies and the cooperation as well as awareness of all parties, including the local communities and the industries.
“We would like to call on everyone to ensure that whatever we do, it will have minimal impact on the rivers,” said Penguang.
Pengaung yesterday revealed that NREB had submitted a request for RM4 million from the federal government during the mid-term review of the Ninth Malaysia Plan to implement an ‘Integrated Watershed Management Plan for the Bakun Catchment Area’.
However, he said the request was not approved and NREB had again submitted a fresh request for funds under the coming 10th Malaysia Plan.
“The management plan is important due to the sensitivity of the area. It will be a blueprint for what we can and can’t do there. We hope that with this plan, we can better protect the Bakun catchment area,” Penguang.
Earlier yesterday, Land Development Minister Dato Sri Dr James Masing took NREB to task for the length of time it took the agency to find out what was causing the death of the fish and it stopping a recurrence.
In pointing out that the massive death of fish had already occurred twice, he fumed: “It’s been more than two months since NREB said it will investigate this and they have still not made their findings public.
“If the findings say that it is because of the mud suffocating the fish then the kampung people are just as good as these scientists who are paid so much.”
Masing, who is the assemblyman of Balleh, one of the affected areas, said that to his knowledge, the NREB was required to enforce a green area or buffer zone along the river banks to minimise erosion caused by human activities.
“The people carrying out shifting cultivation have always been blamed for causing erosion but this (fish dying in large numbers) has not happened until recently.
“NREB should find out who, or what, is causing this severe erosion and it should take action against the responsible parties without fear or favour. That is what they are there for,” said Masing.
Belaga police chief DSP Bakar Sebau told The Borneo Post’s sister daily, Utusan Borneo, that his station had received calls from the public about 10.30am and he had sent his officers to the ground to investigate.
“When they reached the river, my officers saw hundreds of fish, including baung and labang, floating on the surface. We found that their gills were full of mud and we believe the muddy water in the Batang Rajang is causing this,” he said.
By Raynore Mering and Florence Mervyn
Petikan dari BORNEO POST
ENQUIRIES PERTAINING TO THE FOLLOWING NEWSPAPER REPORT:
1. This type of incident never happen before.
2. Habitat of the fish had been "contaminated".
3. It is seem "unacceptable" reasons given by the respective authorities?
4. Is it happen in the "intact" or natural river(s)which are not being affected by logging activities OR dam construction?
5. Is the incident "BEYOND HUMAN CONTROL" again?
6. May be because of HUMAN activities?
KUCHING: The mysterious death of fish in Belaga and Kapit may have been solved and experts say it was not due to poison.
Initial investigations carried out by the Natural Resources and Environment Board (NREB) had found that the fish had practically suffocated to death.
NREB controller Dr Penguang Manggil told The Borneo Post yesterday that the dead or dying fish were found with their gills clogged with mud.
Water sampling and test were carried out on the tributaries of the rivers leading to Bakun or Belaga and Kapit, and except for Murum river, the Balui, Belepeh and Linau rivers were all very murky.
“The water turbility (murkiness) was very high and there was high total suspended solid content. This could have been caused by erosion upstream. The gills of the fishes were found to be blocked by silt, and they are believed to have suffocated,” said Penguang.
According to Penguang, as the rivers’ water level subsided, the current of the rivers became stronger and this would also stir up more sediment.
Penguang said it was very unlikely that the fish had died because of poisoning or chemical contaminants in the rivers. Nevertheless, he said NREB had sent samples to the Chemistry Department for tests.
In Belaga yesterday, hundreds of fish surfaced in the Batang Rajang as they struggled for air, some already dead. There have been several reports of such incidents in Belaga and Kapit since late last year which was cause for much worry for the people there.
Penguang said the erosion of the rivers was caused by human activities upstream and he agreed that it would have long term consequences on the rivers as well as aquatic life. He said the death of the fish emphasised the importance of environmental impact assessment studies and the cooperation as well as awareness of all parties, including the local communities and the industries.
“We would like to call on everyone to ensure that whatever we do, it will have minimal impact on the rivers,” said Penguang.
Pengaung yesterday revealed that NREB had submitted a request for RM4 million from the federal government during the mid-term review of the Ninth Malaysia Plan to implement an ‘Integrated Watershed Management Plan for the Bakun Catchment Area’.
However, he said the request was not approved and NREB had again submitted a fresh request for funds under the coming 10th Malaysia Plan.
“The management plan is important due to the sensitivity of the area. It will be a blueprint for what we can and can’t do there. We hope that with this plan, we can better protect the Bakun catchment area,” Penguang.
Earlier yesterday, Land Development Minister Dato Sri Dr James Masing took NREB to task for the length of time it took the agency to find out what was causing the death of the fish and it stopping a recurrence.
In pointing out that the massive death of fish had already occurred twice, he fumed: “It’s been more than two months since NREB said it will investigate this and they have still not made their findings public.
“If the findings say that it is because of the mud suffocating the fish then the kampung people are just as good as these scientists who are paid so much.”
Masing, who is the assemblyman of Balleh, one of the affected areas, said that to his knowledge, the NREB was required to enforce a green area or buffer zone along the river banks to minimise erosion caused by human activities.
“The people carrying out shifting cultivation have always been blamed for causing erosion but this (fish dying in large numbers) has not happened until recently.
“NREB should find out who, or what, is causing this severe erosion and it should take action against the responsible parties without fear or favour. That is what they are there for,” said Masing.
Belaga police chief DSP Bakar Sebau told The Borneo Post’s sister daily, Utusan Borneo, that his station had received calls from the public about 10.30am and he had sent his officers to the ground to investigate.
“When they reached the river, my officers saw hundreds of fish, including baung and labang, floating on the surface. We found that their gills were full of mud and we believe the muddy water in the Batang Rajang is causing this,” he said.
Subscribe to:
Posts (Atom)